JAS MERAH: KOMPAS MENJAGA MARWAH PERKUMPULAN ADVOCATEN INDONESIA (PAI)
Oleh : *H. Herwan Budiah, SH., MH.*
Ketua DPD Perkumpulan Advocaten Indonesia (PAi) Jawa Barat
_"Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarah."_
Ungkapan abadi Presiden Pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, yang kita kenal sebagai semboyan Jas Merah, bukan hanya nasihat bagi perjalanan negara. Pesan ini menjadi kompas utama yang tak boleh hilang bagi setiap organisasi—termasuk bagi kita yang kini berpayung di bawah Perkumpulan Advocaten Indonesia.
Di tengah dinamika organisasi, kesibukan mengurus perkara, dan tantangan zaman, seringkali kita tanpa sadar melupakan hal yang paling mendasar: dari mana kita bermula, untuk apa organisasi ini didirikan, dan siapa yang telah meletakkan batu pertamanya dengan segala pengorbanan.
Perjalanan Perkumpulan Advocaten Indonesia hingga hari ini tidak tercipta begitu saja. Di balik tegaknya nama organisasi ini, tersimpan keringat, pemikiran mendalam, serta keteguhan hati para penggagas awal yang berjuang agar profesi advokat memiliki tempat yang bermartabat, menjunjung tinggi keadilan, dan menjadi pelindung hak-hak rakyat. Mereka bergerak bukan demi nama pribadi atau keuntungan sesaat, melainkan demi cita-cita luhur yang menjadi landasan berdirinya organisasi ini.
Sebagai pengingat yang tulus dan penuh kebijaksanaan, mari kita renungkan bersama tiga hal pokok ini:
*Pertama*, kenali dan pahamilah jati diri profesi kita.
Menjadi bagian dari Perkumpulan Advocaten Indonesia berarti menyadari bahwa advokasi bukan sekadar pekerjaan mencari nafkah. Kita adalah bagian dari pilar penegak hukum yang bertugas menjaga keadilan, berani membela yang lemah, dan setia pada kebenaran serta etika profesi yang luhur. Jangan sampai kita larut dalam urusan yang menjauhkan kita dari hakikat pengabdian ini.
*Kedua*, hargailah setiap ikhtiar yang telah diletakkan pendahulu kita.
Apapun dinamika yang terjadi, apapun perbedaan pandangan yang ada, jangan pernah melupakan bahwa organisasi ini ada berkat perjuangan mereka yang mendahului kita. Menghormati sejarah berarti kita tidak meremehkan apa yang telah dibangun, dan berjanji untuk menjaganya dengan baik sebagai amanah yang diteruskan kepada generasi selanjutnya. Kita adalah penerus perjuangan, bukan pemilik mutlak atas nama organisasi ini.
*Ketiga*, petiklah hikmah berharga dari setiap perjalanan yang ada.
Setiap ujian, setiap peristiwa, dan setiap perubahan yang dialami organisasi adalah sekolah kehidupan. Yang membuat kita dewasa dan berkelas bukanlah lamanya waktu kita bergabung, melainkan seberapa banyak pelajaran yang kita ambil untuk menjadi pribadi yang lebih bijak, organisasi yang lebih kokoh, dan lebih bermanfaat bagi sesama serta bangsa.
Sejarah tidak meminta kita terjebak di masa lalu, namun meminta kita berjalan dengan arah yang benar. Jangan sampai kita sibuk mengubah haluan hingga lupa pelabuhan tujuan. Jangan sampai kita sibuk bersuara hingga lupa pesan yang harus disampaikan.
Mari kita rawat persaudaraan ini dengan hati yang lapang. Mari kita junjung tinggi nama baik organisasi ini dengan perilaku yang terpuji. Mari kita lanjutkan perjuangan para pendahulu dengan semangat yang tak pernah padam.
Ingatlah selalu: Jas Merah bukan hanya milik bangsa, tapi juga milik kita. Jangan sekali-kali melupakan sejarah, dan jangan sekali-kali mengkhianati tujuan mulia yang telah diletakkan.
Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa senantiasa memberikan petunjuk, kekuatan, dan keberkahan bagi langkah kita semua.
Aamiin.
Bandung -Jawa Barat, 25 Juli 2026

Tidak ada komentar