PENJAJAHAN PARADIGMA BERFIKIR : Dalam Perspektif Kearifan Leluhur Tatar Sunda
PILARGLOBALNEWS
Oleh: Usep Wahyu, SH.,C.PNK.,C.LO. / Keluarga Besar IKAL Lemhannas Jabar
Kemerdekaan bangsa Indonesia telah kita raih sejak puluhan tahun silam. Bendera asing telah diturunkan, kekuasaan kolonial telah berakhir, dan kedaulatan negara telah tegak di atas bumi pertiwi. Namun, pertanyaan mendasar masih tersisa dan perlu direnungi bersama: Apakah kita benar-benar telah merdeka seutuhnya?
Jika kemerdekaan hanya diukur dari tidak adanya penjajah fisik, mungkin jawabannya adalah ya. Namun, jika kemerdekaan diartikan sebagai kebebasan menentukan nasib sendiri, kebebasan berpikir, dan kedaulatan budaya, maka kita perlu mengakui satu kenyataan pahit: penjajahan belum sepenuhnya berakhir. Penjajahan itu kini berubah wujud, tidak lagi membawa senjata atau pasukan, melainkan masuk melalui akal budi, cara pandang, dan pola pikir kita sendiri. Inilah yang disebut sebagai Penjajahan Paradigma Berpikir.
Dalam perspektif kearifan lokal Tatar Sunda, fenomena ini memiliki makna yang sangat dalam, mendalam hingga ke urat nadi kehidupan bermasyarakat, berbudaya, dan bernegara. Leluhur kita telah meninggalkan sejumlah nilai dan falsafah hidup yang jika kita renungi, ternyata merupakan resep ampuh untuk membebaskan diri dari belenggu pemikiran asing yang tidak sesuai dengan jati diri bangsa.
Hakikat Penjajahan Paradigma Berpikir
Penjajahan paradigma berpikir adalah kondisi di mana cara pandang, nilai, standar ukur, dan kerangka berpikir suatu bangsa atau masyarakat dikendalikan, dibatasi, dan diarahkan oleh pihak lain. Ini adalah bentuk penjajahan yang paling halus namun paling berbahaya, karena ia bekerja secara diam-diam, membuat korbannya merasa bebas, padahal akal dan kemauannya sedang dikendalikan oleh orang lain.
Kita sering kali terjebak dalam anggapan bahwa segala sesuatu yang berasal dari luar, dari bangsa lain, adalah yang paling benar, paling maju, dan paling tinggi nilainya. Sebaliknya, segala sesuatu yang lahir dari budaya, tradisi, dan pemikiran leluhur sendiri sering kali dianggap kuno, tertinggal zaman, atau tidak ilmiah. Akibatnya, kita menilai kemajuan kita dengan ukuran orang lain, memecahkan masalah dengan rumusan orang lain, dan menentukan kebijakan dengan kerangka pikir orang lain — padahal konteks, kebutuhan, dan kepentingan kita sangatlah berbeda.
Dalam ungkapan sederhana warisan budaya Sunda, kondisi ini digambarkan sebagai:
"Hirup tapi teu boga akar, mikir tapi teu boga pilar — ngan ukur nurut omongan batur sanajan henteu cocok jeung kaayaan sorangan."
(Hidup namun tak berakar, berpikir namun tiada landasan — hanya mengikuti kata orang lain meski tidak cocok dengan keadaan sendiri)
Ini adalah kemiskinan berpikir yang sesungguhnya. Kita hanya menjadi pengguna dan pengikut pemikiran orang lain, bukan menjadi pencipta atau penentu arah kehidupan sendiri.
Tanda-tanda Terjebak dalam Pola Pikir Asing
Leluhur Tatar Sunda yang bijaksana telah memberikan tanda-tanda atau ciri-ciri kapan suatu masyarakat mulai kehilangan kemerdekaan berpikirnya. Hal ini tercermin dalam perilaku dan cara pandang hidup sehari-hari:
Pertama, Melupakan dan Meremehkan Warisan Sendiri.
Ciri utamanya adalah sikap "Ngalalaworakeun nu aya, ngagungkeun nu datang ti luar" — membuang apa yang ada di tangan sendiri, namun meninggikan segala sesuatu yang datang dari luar. Kita bangga mengadopsi budaya asing, gaya hidup asing, dan nilai-nilai asing, tetapi malu atau malu mengaku memiliki warisan luhur seperti Pikukuh, Tri Tangtu di Buana, atau kearifan lokal tentang harmoni alam. Padahal di dalam nilai-nilai leluhur itu tersimpan solusi kehidupan yang damai, sejahtera, dan berkelanjutan yang kini justru dicari-cari oleh bangsa-bangsa maju di dunia.
Kedua, Menjadikan Ukuran Orang Lain sebagai Kebenaran Mutlak.
Terjadi kondisi di mana kita kehilangan kemampuan menilai sendiri. Apa yang dikatakan benar oleh orang luar, kita ikut menyebut benar; apa yang dikatakan salah oleh mereka, kita ikut menyebut salah, padahal kita belum tentu paham hakikatnya. Falsafah "Nyaho, Ngarti, Ngartikeun, Ngamalan" — tahu, paham, mengerti hakikat, lalu diamalkan — kita tinggalkan, diganti dengan sikap ikut-ikutan tanpa dasar pemahaman yang kuat. Kita lupa bahwa ukuran kemajuan menurut pandangan asli Sunda bukanlah semata-mata kekayaan materi atau teknologi, melainkan manusia yang Cageur, Bageur, Bener, Singer, Pinter — sehat jasmani, baik budi pekerti, benar jalan hidupnya, mawas diri, dan cerdas akal budinya.
Ketiga, Kehilangan Jati Diri dan Landasan Hidup.
Ketika cara berpikir sudah sama persis dengan orang lain, maka hilanglah pembeda kita sebagai sebuah bangsa atau suku bangsa. Sebagaimana peringatan leluhur: "Lamun mikirna ge sarua jeung batur, kumaha daunna bakal beda ti nu sejen?". Jika cara berpikir kita sama dengan orang lain, di mana letak keunikan dan keunggulan kita? Kita menjadi bangsa tanpa wajah, yang mudah diombang-ambingkan arus zaman dan mudah dipecah belah karena tidak memiliki akar yang kuat.
Keempat, Putusnya Hubungan Harmoni dengan Alam dan Sesama.
Pola pikir asing yang masuk sering kali membawa paham yang memisahkan manusia dengan alam, memisahkan individu dengan masyarakat, dan mengutamakan kepentingan pribadi di atas kebersamaan. Ini bertentangan dengan prinsip dasar kehidupan masyarakat Sunda yang dipegang teguh sejak dulu: Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh — saling mengasah kelebihan, saling mengasihi hati nurani, dan saling mengasuh dalam kebersamaan. Ketika prinsip ini hilang, maka ketahanan sosial dan ketahanan hidup kita pun menjadi rapuh.
Bahaya Besar di Balik Hilangnya Kemerdekaan Berpikir
Mengapa penjajahan paradigma berpikir ini harus menjadi perhatian serius, terutama bagi kita para alumni Lemhannas yang memegang teguh nilai Ketahanan Nasional? Jawabannya sederhana: karena pondasi kekuatan sebuah bangsa terletak pada kemandirian berpikirnya.
Dalam pandangan leluhur Sunda, ada pepatah penting: "Lamun ati ge eleh, awak ge pasti eleh". Artinya, jika hati dan pikiran sudah dikalahkan atau dikuasai oleh orang lain, maka seluruh kekuatan fisik, kekayaan alam, dan kekuasaan pun pasti akan jatuh ke tangan orang lain.
Bahaya nyata yang mengancam antara lain:
Pertama, Masalah tidak dapat diselesaikan sendiri. Solusi yang kita gunakan hanyalah resep dari bangsa lain, yang sering kali "Ubar teu pas kana panyakit" — obat tidak cocok dengan penyakitnya. Akibatnya, masalah makin bertumpuk dan ketergantungan kepada pihak luar makin kuat.
Kedua, Kemandirian bangsa terhambat. Selama kita masih menunggu validasi, pengakuan, atau petunjuk dari luar, kita tidak akan pernah menjadi bangsa yang berdaulat seutuhnya.
Ketiga, Hilangnya kekayaan budaya dan kearifan lokal. Nilai-nilai yang sebenarnya merupakan kekuatan besar kita sendiri perlahan punah dan dilupakan, hanya karena dianggap tidak relevan oleh standar asing.
Jalan Pembebasan: Kembali ke Akar, Melangkah ke Depan
Leluhur Tatar Sunda tidak mengajarkan kita untuk tertutup diri dari dunia luar atau menolak kemajuan zaman. Justru sebaliknya, ajaran "Nyantri, Nyunda, Nyantika" mengandung makna bahwa kita harus tetap belajar, berilmu, dan berbudaya tinggi. Namun, ada satu syarat mutlaknya: ilmu apa pun yang kita pelajari, kemajuan apa pun yang kita capai, harus tetap berpijak pada akar dan jati diri sendiri.
Berikut adalah langkah-langkah pembebasan paradigma berpikir sesuai kearifan Tatar Sunda:
1. Tegakkan Prinsip: "Nyaho Luar, Tapi Akar Di Jero"
Berpikirlah seluas samudera, pelajarilah ilmu pengetahuan dari siapa saja, kuasai teknologi dan kemajuan zaman. Namun, tanamkan akar pemikiran itu sedalam-dalamnya di bumi sendiri. Pepatah mengingatkan: "Diajar ka nu pinter, tapi ulah poho ka nu ngajar". Belajarlah dari yang pandai, tapi jangan lupa asal-usul dan nilai diri sendiri. Ambil ilmunya, tinggalkan sifat buruknya; gunakan caranya, tapi tujuannya harus tetap untuk kebaikan dan kemajuan bangsa sendiri.
2. Hidup dan Berpikir Berlandaskan Lima Sifat Utama
Ukirkan kembali dalam hati dan pikiran standar ukur kemajuan sejati versi leluhur, yaitu menjadi manusia yang:
- Cageur: Berpikir sehat, jernih, tidak mudah terombang-ambing.
- Bageur: Berpikir baik, berakhlak mulia, dan bermanfaat bagi sesama.
- Bener: Berpikir benar, lurus, dan berpegang pada kebenaran hakiki.
- Singer: Berpikir mawas diri, kritis, cermat, dan bijak dalam memilah segala sesuatu yang masuk.
- Pinter: Cerdas menguasai ilmu, namun cerdas pula menempatkannya sesuai kebutuhan.
3. Jadilah Pencipta, Bukan Sekadar Pengikut
Ubah pola pikir kita dari sekadar peniru menjadi pencipta. Leluhur Sunda adalah bangsa yang kreatif, yang mampu menciptakan sistem hidup, seni, budaya, dan pengetahuan yang luar biasa majunya pada zamannya. Kita wajib meneruskan semangat itu: berani merumuskan gagasan, berani menawarkan solusi asli Indonesia yang berakar dari nilai budaya, dan berani menentukan sendiri apa yang terbaik bagi negeri ini.
4. Mengembalikan Kehormatan pada Kearifan Lokal
Mulailah kembali menggali, mempelajari, dan mengamalkan nilai-nilai warisan leluhur. Percayalah bahwa kearifan lokal kita bukanlah sesuatu yang ketinggalan zaman, melainkan harta karun pemikiran yang mengandung kebijaksanaan universal yang dibutuhkan dunia saat ini, seperti keseimbangan alam, persaudaraan, dan kedamaian sosial.
Penutup: Merdeka dalam Berpikir
Bagi kami keluarga besar alumni Lemhannas RI, nilai Ketahanan Nasional adalah pedoman utama. Ketahanan yang kokoh tidak akan mungkin terbangun di atas pola pikir yang terjajah atau tergantung pada pandangan orang lain.
Sebagai penutup, mari kita renungi pesan mendalam dari kearifan Tatar Sunda ini:
"Kemerdekaan sejati baru ada saat kita merdeka dalam menilai, merdeka dalam memilih, dan merdeka dalam menentukan nasib sendiri — berdasar akal budi, nilai luhur, dan kepentingan sendiri, tanpa kehilangan rasa hormat pada sesama."
Membebaskan diri dari penjajahan paradigma berpikir adalah tugas suci kita semua. Mari kita bangun kembali cara pandang yang berakar kuat di bumi sendiri, bertunas di zaman sekarang, dan berbuah manis bagi kemajuan Indonesia Raya. Karena hanya dengan pikiran yang merdeka dan berdaulat, kita akan mampu mewujudkan bangsa yang mandiri, bermartabat, dan disegani oleh dunia.
KEMENANGAN YANG SEMPIT: Dinamika Destruktif dan Ilusi Kekuasaan dalam Organisasi
Oleh Usep Wahyu, SH.,C.PNK.,C.LO.
Di dalam sejarah panjang perjalanan sebuah organisasi, selalu terulang sebuah paradoks klasik yang tak kunjung usang. Sebuah pola perilaku yang sama terus berputar, seolah menjadi hukum alam yang melekat dalam dinamika kehidupan bersama. Kita acap kali menyaksikan betapa ada kelompok yang begitu giat, tulus, dan bersemangat menggerakkan berbagai inisiatif, merancang program, dan mencurahkan segala tenaga serta pikiran demi kemajuan bersama dan kebaikan organisasi yang kita cintai. Mereka bergerak dengan satu tujuan luhur: agar organisasi semakin bermartabat, semakin bermanfaat, dan semakin mampu memberikan sumbangsih nyata.
Namun, ironi yang sering terjadi adalah: kerja keras, ketulusan, dan pengabdian mereka itu kerap kali tidak mendapatkan apresiasi yang layak. Upaya besar yang telah dibangun dengan susah payah itu bukan hanya sekadar diterima dengan kritik atau saran penyempurnaan. Lebih pahit lagi, realitas yang kita temui sering kali berupa hasutan, bisik-bisik negatif, hingga serangan tajam dari pihak-pihak yang justru paling sedikit terlibat dalam pelaksanaan. Bahkan, ada yang tidak tanggung-tanggung menjatuhkan kredibilitas para penggiat itu dengan cara-cara tercela, menyebarkan fitnah, dan tuduhan yang sepenuhnya tidak berdasar, jauh dari fakta yang sesungguhnya.
Jika kita telisik lebih dalam, di balik segala serangan dan upaya pendiskreditan itu, kita akan menemukan satu tujuan tunggal yang sangat sempit dan menyedihkan. Semua itu mereka lakukan hanya demi satu hal: mendapatkan pengakuan dan validasi sosial yang mereka inginkan. Ada kelompok dalam organisasi yang ternyata tidak memiliki cukup kemampuan, keberanian, atau mungkin ketulusan untuk berkontribusi secara nyata, terjun ke lapangan, dan menghasilkan karya yang bisa dilihat manfaatnya. Karena tidak mampu atau tidak mau bersusah payah berkarya, jalan pintas pun mereka ambil: meruntuhkan prestasi orang lain, menodai karya orang lain, dan menurunkan wibawa mereka yang bekerja. Dengan cara itulah, mereka berharap akan terlihat sama, atau bahkan dianggap lebih benar dan lebih berhak.
Hal yang paling menyayangkan dan menjadi ironi terbesar dalam berorganisasi adalah ketika ada pihak yang merasa berhasil dan menang setelah menjatuhkan nama baik atau kerja keras orang lain. Mereka merasa puas, merasa terbukti benar, dan merasa posisinya sudah aman karena lawan atau pesaingnya sudah berhasil dikalahkan lewat berbagai cara itu. Namun, ada satu kenyataan besar yang lupa mereka pahami sepenuhnya: Keberhasilan menjatuhkan orang lain itu sama sekali tidak menjadikan dirinya lebih besar, lebih hebat, atau lebih berharga, apalagi membawa kemajuan bagi organisasi.
Sebesar apa pun usaha yang mereka curahkan untuk mencari-cari kesalahan, sekuat apa pun narasi yang mereka bangun untuk menjelekkan kerja orang lain, dan sepuas apa pun hati mereka melihat orang lain terpuruk, faktanya tetaplah sama: mereka tetap sama seperti sebelumnya. Menjatuhkan orang lain tidak serta-merta membuat kemampuan mereka bertambah, tidak membuat karya mereka bertambah, dan tidak membuat kontribusi nyata mereka menjadi lebih besar di mata organisasi. Kesuksesan meruntuhkan orang lain tidak otomatis mengangkat derajat diri sendiri. Memang, untuk sesaat mereka mungkin terlihat menang, terlihat dipercaya sebagian orang, atau terlihat berkuasa. Tapi itu semua hanyalah kemenangan semu, kemenangan yang kosong tanpa isi.
Dalam kerangka bahasa sosiologi politik, fenomena ini dapat dipahami lebih tajam sebagai bentuk kemenangan yang bersifat destruktif namun nir-esensi. Artinya, kemenangan tersebut dibangun di atas kehancuran pihak lain, tetapi sama sekali tidak memiliki substansi, makna, atau nilai keberlanjutan yang berguna bagi kehidupan bersama. Secara spesifik, frasa dan fenomena ini memiliki tiga arti utama yang menyoroti secara jelas dinamika konflik, kekuasaan, dan perubahan sosial yang terjadi di lingkungan kita:
Pertama: Piramida Konflik yang Kosong.
Pihak yang berkonflik mungkin merasa telah berhasil menumbangkan lawan atau menekan suara-suara yang berbeda. Namun, seluruh energi, waktu, dan kecerdasan mereka hanya habis terkuras dan dihabiskan semata-mata untuk saling menjatuhkan, mendiskreditkan, dan merusak. Akibat yang paling fatal adalah: setelah "menang", pemenang tersebut ternyata tidak memiliki program kerja yang matang, tidak memiliki visi ke depan yang jelas, serta tidak memiliki modal sosial dan kepercayaan yang cukup dari lingkungan untuk memimpin secara transformatif. Puncak kekuasaan telah diraih, tetapi isinya hampa, kosong dari gagasan, dan lemah dalam tindakan nyata.
Kedua: Kemenangan Tanpa Hegemoni.
Pihak yang menang mungkin secara formal telah menguasai wilayah, jabatan, atau posisi kekuasaan. Secara struktural mereka terlihat berkuasa dan berhak mengambil keputusan. Namun, kemenangan ini gagal total dalam memenangkan hati dan pikiran anggota organisasi atau masyarakat luas. Di mata publik, legitimasi kekuasaan mereka sangat rapuh dan semu. Mereka dipatuhi karena jabatan, bukan karena dihormati; mereka didengar karena kuasa, bukan karena dipercaya. Tanpa hegemoni nilai dan gagasan, kekuasaan itu hanya bertahan di permukaan, mudah runtuh, dan tidak memiliki daya ikat yang kuat.
Ketiga: Ilusi Perubahan.
Ada anggapan keliru bahwa mengganti pemimpin, menjatuhkan figur lama, atau mengubah struktur organisasi secara sepihak akan otomatis melahirkan kemajuan. Padahal, menjatuhkan orang atau kelompok tertentu tidak serta-merta menciptakan perubahan sistem yang lebih baik. Sering kali kita melihat siklus penindasan, perselisihan, atau masalah lama justru terulang kembali, bahkan oleh pihak yang sama yang mengaku sebagai pembawa perubahan. Mengapa? Karena tidak ada transformasi pada nilai, karakter, dan cara berpikir. Wajah yang berubah, tetapi budaya dan perilakunya tetap sama. Itulah sebabnya perubahan hanya menjadi ilusi belaka.
Realitas ini menjadi semakin menyedihkan ketika kita melihat dampaknya bagi keutuhan dan kemajuan organisasi. Kemenangan sempit ini sama sekali tidak membuat organisasi menjadi lebih maju, lebih kuat, atau lebih bermartabat. Ketika mereka sibuk menjatuhkan, organisasi berhenti berjalan. Ketika mereka sibuk merusak reputasi rekan, energi organisasi habis tersedot untuk menyelesaikan konflik, untuk meluruskan fitnah, dan untuk menenangkan suasana. Alih-alih fokus memajukan misi dan tujuan bersama, kita malah sibuk mengurus urusan pribadi dan ambisi segelintir orang.
Inilah hakikat dari kemenangan yang sempit: "Ia bangga telah berhasil menjatuhkan orang lain, namun lupa bahwa ia sendiri tetap kecil, dan organisasi yang kita cintai pun ikut menjadi kecil, tertinggal, dan rugi besar akibat ulahnya itu."
Mari kita sadari bersama perbedaan mendasar ini. Kritik yang membangun hadir dari mereka yang peduli, yang ikut merasakan kepedihan organisasi, dan yang berniat meluruskan arah demi kebaikan bersama. Sedangkan serangan dan fitnah datang dari mereka yang haus pengakuan, yang menjadikan organisasi sebagai panggung ambisi pribadi, bukan ladang pengabdian.
Menjatuhkan orang lain tidak akan pernah membuat kita besar. Yang membuat kita besar adalah kemampuan kita membangun, kemampuan kita mengangkat orang lain, dan kemampuan kita memberikan sumbangsih nyata bagi kemajuan bersama. Sebab pada akhirnya, sejarah organisasi hanya akan mencatat nama-nama mereka yang memberi sumbangsih, yang membangun pondasi, dan yang berjuang tulus demi kemajuan bersama. Nama-nama mereka yang hanya sibuk menjatuhkan, mendiskreditkan, dan menghabiskan energi untuk hal tak berguna, perlahan akan pudar dan hilang terlupakan, karena mereka tidak pernah meninggalkan jejak kebaikan apa pun bagi organisasi ini.
Organisasi ini besar bukan karena ada yang pandai menjatuhkan, tapi karena banyak yang tulus membangun. Mari kita pegang teguh prinsip ini: "Jika belum mampu berkarya, berilah dukungan. Jika berbeda pandangan, sampaikan dengan bijak. Tapi jangan pernah berusaha menjatuhkan orang lain hanya agar diri sendiri terlihat tinggi." Karena kemajuan organisasi adalah tanggung jawab kita semua, dan itu hanya bisa dibangun oleh hati yang besar, visi yang luas, dan nilai-nilai yang kokoh, bukan oleh ambisi yang sempit dan kemenangan yang hampa.


Tidak ada komentar